Mimpi Semalam....
Suasana yang ramai di terminal, semua pada sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, begitupun denganku, aku membantu seorang teman supirku malam itu. Kami yang lagi beristirahat aku sibuk menghitung uang yang ada ditanganku, dan teman supirku tadi dia sibuk dengan minuman yang ada diatas meja, dia bersama teman-temannya tertawa bersama. Aku tidak takut sama sekali justru aku senang bisa berada ditempat itu, dikelilingi laki-laki yang seumuran dengan Ayahku. aku mengakui kalau mereka memang lebih kuat, lebih besar, dan pasi saja lebih menyeramkan dengan pakaian preman berantakan, rambut panjangnya, muka bengis, tatoan yang ada ditangan mereka, tidak lupa dengan segala aksesoris preman yang mereka gunakan, itu benar-benar melengkapi penampilan mereka untuk menjadi seorang preman.
Awalnya aku bekerja sebagai kernet bus pariwisata, dan aku memungut ongkos kepada setiap penumpang yang naik bis kami saat itu, sampai aku bertemu dengan seorang bapak-bapak yang sangat menyebalkan, ketika dimintai ongkos dia malah marah-marah dan berteriak padaku, dia tidak suka, namun aku tetap menahan amarahku dan mencoba untuk tetap senyum kepadanya. lalu aku bertemu dengan seorang pria yang menanyaiku, bagaimana mungkin seorang anak perempuan kecil menjadi kernet bus? yah aku tahu aku adalah anak yang berpendidikan namun apakah salah jika aku mencari uang yang halal ditempat ini? aku membalaskan pertanyaan kepadanya dengan menekankan sesuatu pada kalimatku dan tersenyum tipis ketegasan.
Setelah itu dia hanya diam saja memperhatikanku. Lalu aku melaju kedepan mendekati penumpang yang ada didekat supir, dan yah aku berteriak kembali dalam bus itu, untuk memastikan apakah semua sudah membayar uang perjalan, ternyata masih ada tiga orang yang belum membayar dua orang wanita dan seorang pria. Aku kesal dan mengendus napas menghampiri mereka, "aku kesana tadi, bahkan aku sudah berteriak dari tadi, buat aku kerja dua kali saja", dan setelah itu aku berjalan menghampiri mereka.
Sampai akhirnya supir bus kami dan dia masuk bersama seorang preman temannya, badan mereka sama-sama besar dan penuh dengan tato, sangat menakutkan jika melihat penampilannya, tetapi supir bus itu adalah teman baikku, dia tersenyum padaku dan duduk dibelakang kemudi, sedangkan temannya mengikuti dia duduk disebelahnya sambil sesekali melihatku yang sibuk memungut ongkos perjalanan. Perkenalan yang begitu singkat.
Aku tidak mengerti kenapa temanku ini melajukan mobilnya dengan sangat kurang baik, sepertinya dia minum terlalu banyak tadi, bus kamu hampir saja jatuh terguling katika keliar dari pintu keberangkatkan di terminal, seperti menakutiku untuk menjadi seorang kernet dihari pertama, untungnya aku berhasil melalui itu, aku bisa dan menahan peganganku pada sisi dinding pintu bus, dan yah aku selamat. Sampai dimana sekitar perjalanan yang sudah agak jauh dari terminal aku bertemu dengan seorang anak sekolah yang sedang diganggu oleh teman-temannya, mereka segerombolan lumayan banyak jumlahnya tiga orang laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Mereka menanggungnya yang ingin pergi pulang kerumah, bekal yang dia bawa mereka merampasnya untuk mereka. Dia ketakutan, dia menangis, ingin dia berteriak tapi dia tahu itu akan percuman, karena memang keadaan pada saat itu sepi sekali. Aku tidak pikir panjang aku lari dan menghampiri mereka, aku ingin segera menyelamatkannya. Aku sampai disana, anak-anak itu menertawakanku, mereka mengataiku jalang tua, dasar tidak tahu malu, ini adalah urusan anak kecil mengapa aku mengganggu mereka bermain, katanya.
Aku melawan mereka. Jika kalian berani mencoba mengganggunya lagi aku akan memukul kalian semua, coba saja, kataku. Jika kalian berani mendekat aku akan melayangkan tinjuku untuk kalian, tambahku lagi. Namun teman-teman ceweknya itu terus membuat suasana menjadi memanas, mereka benar-benar ingin melihat bentuk perlawananku kepada mereka, mereka penasaran dengan tinju yang kukatakan untuk mereka itu. Sampai akhirnya seorang anak yang badannya agak gendut, rambutnya lurus mencoba mengajakku untuk sparing, dia mendekat lalu menjauh, dia memang mengeluarkan kata-kata yang membuat emosuku semain meledak, sampai akhir aku sudah tidak dapat menahannya, aku benar-benar memberinya tunjangan pada dada anak itu, aku menendang bagian pipi sebelah kanan anak itu, dia mengelusnya, dia mengadu kesakitan. Temannya yang meilhat itu mulai ketakutan kepadaku dan meyakini bahwa aku ini memang benarlah kuat. Sampai akhirnya aku menyuruh mereka untuk meminta maaf kepada anak perempuan itu, mereka saling meminta maaf dan akhirnya mereka bersatu, mereka berteman kembali, anak-anak nakal itu benar-benar mengakui kesalahannya. Setelah kejadian itu berakhir aku berniat akan emmbawa mereka untuk segera pulang kerumah mereka masing-masing terlebih hari sudah semakin gelap. Sebenarnya aku tidak mengerti mengapa aku bisa melawan anak itu, bahkan sparing sekolah tingkat pertamaku, aku masih mengingat jurusnya pada diriku yang sekarang, tapi untungnya aku bisa mengelabuhi anak-anak itu dan mereka percaya padaku. Dan lebih baiknya aku bisa membuat anak yang dibully bisa mendapatkan banyak teman.
Kami berjalan berdampingan menuju busku, betapa disitu aku mulai menyadari bahwa semua ank-anak yang kutemui ini adalah makhluk halus. Wajah mereka yang pucat dan saling tertawa, tangan mereka ada yang patah dan hilang bagiannya, jari-jari mereka ada yang hilang, badan sobek penuh darah. Namun aku tetap tersenyum dan melupakan hal itu, kami berjalan belok kekanan keluar dari gang gelap tempat dimana mereka membully dan melakukan hal kasar kepada anak perempuan itu, setelah belokan pertama kali, seorang anak perempuan terkejut, dia seperti melihar arwah suster, tidak begitu jelas karena arwah itu langsung menghilang ketika kami dia mendengar langkah kami begitu banyak, seperti pemalu.
Setelah itu aku tetap memberanikan diri, membimbing anak-anak untuk pulang, aku mengatakan jangan takut, kita tidak apa-apa, mungkin itu adalah halusinasimu saja, kataku pada salah seornaga nak perempuan itu, aku pikir aku ketahuan ternyata dia tersenyum kembali dan kembali menggenggam tanganku dengan penuh keyakinan bahwa kami memang baik-baik saja. Yess itu berhasil, dalam hatiku berkata.
Kami berjalan terus berjalan, menuju tempat dimana busku berada, tapi dimana busku, semakin kami terus berjalan terus kekanan kami keluar dari gang itu, kami tidak mendapat pencerahan, sepertinya busku telah meninggalkan aku disana. Sampai akhirnya satu langkah semakin dekat dengan pasar yang kini gelap dan sepi karena itu akan menjadi pasar jika orang telah terbangun di pagi harinya, maka pasar itu akan rama dan tampaklah seperti pasar.
Semakin kami mendekat dengan pasar, sedikit lagi, aku mulai merasakan sesuatu, dan kami mendengar suara anak perempuan menangis ketakutan, dia tersedu-sedu, sangat ketakutan, dia ingin lari dari situ, ingin berteriak tapi seperti ada yang mengancamnya dan membuat dia benar-benar takut untuk mengeluarkan suara, dan sedikit melangkah, terus melangkah, yahh dekat semakin dekat, kami semakin perlahan-lahan membuat itu tetap tenang sampai akhirnya kami melihatnya.
Didepan pasar sepi itu, tepatnya depan salah satu toko bangun yang tertutup, dengan kursi besar yang ada didepan toko bangunnya, itu membuat tampak setengah badan hingga ke atas, aku melihatnya, mengapa dia menangis ketakutan, dan mengapa dia tidak berani untuk teriak, ternyata seorang suster mengancamnya dengan belati kecil yang dilengketnya pada leher anak itu dan dia benar-benar meloto kepada anak itu, benar-benar mengancamnya, wajah yang tegas, urat-urat wajah yang terlihat jelas tergambar pada wajahnya yang putih pucat, dia melotot pada anak itu, aku merasakan ini dalah energi yang kuat, sangat kuat dan jahat, aku ragu, aku yakin tidak akan bisa melawannya, aku tidak sekuat itu, aku lemah karena aku adalah seorang manusia, seorang perempuan yang mencoba untuk kuat, akhirnya kami berpencar untuk bersembunyi, aku berlari sebisaku, sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya dari suster itu.
Sampai akhir disanalah aku menemukan sebuah gang yang turunan, dibawah sana aku melihat ada perumahan, benar-benar dibawah tanah, benar-benar disudut ruangan, aku mencoba bersembunyi disana, tertutup, bagaimana agar aku tidak terlihat olehnya, awalnya aku ingin bersembunyi di tenda-tenda tempat mandi, tapi sepertinya aku masih terlihat, aku butuh ruang tertutup yang benar-benar menutupiku dari dia. Dari dalam ruangan aku mendengar mereka sedang menonton televisi bersama, suaranya sangat jelas terdengar, disitulah aku menyadari bahwa ini adalah rumah manusia, aku yakin ini adalah manusia, aku akan bertemu dengan manusia, dan setelah itu aku mencoba bersembunyi dibilik kamar mandi mereka yang benar-benar kecil dan sempit, ketika aku mengintip ruangan yang menghasilkan suara televisi itu tapi aku tidak menemukan siapapun, akhirnya aku putuskan denga cepat untuk masuk dan bersembunyi ke bilik itu.
Aku bersembunyi, aku takut sepertinya dia sudah mengetahuiku, seperti ada orang diluar, dia melihat pintu bilik bergerak, sungguh itu benar-benar menakutkan, aku takut jika dia melihatku, sampai akhirnya aku mencoba mengintip keluar ternyata ada dua orang wanita yang melihat keatasku, mereka tertegun dan seperti menahan takut melihat itu, tertegun dan memandang dengan pasti, aku bingung, perlahan-lahan aku memastikan apa yang mereka lihat, ternyata disana telah terpampang wajah-wajah yang terpenggal denga mulut terbuka, wajah mereka ketakutan, mulut yang terbuka karena berteriak menahan sakit, dan mata yang tertutup karena tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi pada diri mereka. Dan disitulah aku mendengar suara wanita suster itu tertawa, sangat jelas terdengar ditelingaku, aku gemetar semakin ketakutan, aku tidak tahu mau kemana lagi, sampai akhirnya aku berteriak, aku menyadaari bahwa diriku sudah penuh dengan keringat yang membasahiku, aku sudah tidak kuat lagi, jantungku berdegup dengan cepat dan panas, aku terbangun dari tidurku, aku menatap seisi ruangan bahwa hari sudah pagi terang dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat seperempat, caha pagi hari itu tidak dapat masuk karena terhalang oleh gorden jendela yang belum ku buka.
Aku masih takut, sungguh itu benar-benar sangat menyeramkan, tapi aku benar-benar merasakannya, aku benar-benar melihat tatapan tajam mata suster itu ketika mengancam anak perempuan itu, dengan belati, untun aku tidak melihat sampai akhir, dan terlebih untungnya itu adalah sebuah mimpi.
Komentar
Posting Komentar